Jumat, 02 Februari 2018

Berawal dari Keisengan, Bambu Noreh ini Disulap jadi Kerajinan Miniatur Rumah Adat



(Foto: Miniatur Rumah Adat Khas Desa Kelbung)


Tak lengkap rasanya, jika berkunjung ke suatu tempat tanpa membawa oleh-oleh khas dari daerah tersebut. Seperti halnya di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan. Sebuah desa eksotis dengan pemandangan indah, dan penuh pesona. Bukan hanya panorama alam yang dapat dinikmati para wisatawan, melainkan juga kerajinan tangan khas asli buatan masyarakat setempat yang dapat dijadikan buah tangan, salah satunya miniatur rumah terbuat dari bambu.

Kerajinan yang satu ini belum dikenal luas oleh masyarakat luar desa Kelbung, karena jika berbicara Kelbung, kebanyakan orang mungkin hanya mengetahui kerajinan tangan Tas Tali Agel. Berbeda dengan kerajinan tas Tali Agel yang sudah lama diproduksi, kerajinan tangan miniatur rumah dari bambu ini baru dibuat pada awal tahun 2018, tepatnya bulan Januari 2018.

Untuk sementara ini, kerajinan rumah dari miniatur bambu masih diproduksi secara rumahan oleh Mohammad Tayum. Inisiatif ini berasal dari keisengan semata, yakni membuat asbak dari bambu. Dari inisiatif tersebut, Tayum mendapat inspirasi dari salah satu tetangganya, yakni Rahmat.

“Inisiatif tersebut sekadar iseng belaka, yakni membuat miniatur rumah adat dari bambu,” ujar Rahmat, di tempat produksi kerajinan tangan tersebut.


(Foto: Rahmat dan Tayum Membawa Miniatur Rumah Adat)

Bukan sekadar kerajinan biasa, Rahmat dan Tayum berinisiatif membuat miniatur rumah adat Indonesia. Beberapa miniatur rumah adat yang telah berhasil dibuat antara lain, Musala khas Madura, dan Rumah Adat Kobelluh Madura, dan Rumah Adat Khas Minangkabau.

Setiap miniatur rumah tersebut berhasil dibuat dalam waktu kira-kira 15 hari, dengan melalui beberapa tahap proses pembuatan. Pertama, mencari bambu Noreh yang mudah didapatkan di daerah Kelbung. Kedua, proses pemotongan bambu sesuai dengan ukuran bagian-bagian miniatur dengan menggunakan piol (sejenis pisau khas Madura). Ketiga, pemasangan bagian-bagian miniatur rumah dengan menggunakan lem-G. Perlu diketahui, dalam proses pembuatan miniatur rumah adat, Tayum tidak menggunakan konsep gambar terlebih dahulu, melainkan melihat secara langsung rumah-rumah adat yang ada di Kelbung. Pada tahap terakhir, miniatur rumah yang sudah jadi, dilapisi dengan vernis agar mengilap, lalu dijemur di bawah sinar matahari agar kering.

Miniatur rumah adat ini dijual berdasarkan tingkat kerumitan proses pembuatan. Ditanya tentang harga jual, Tayum menyebut kisaran harga mulai dari 150 ribu hingga berdasarkan ukuran serta kerumitannya. Sementara itu, untuk kerajinan asbak dijual dengan harga 15 hingga 20 ribu. Kendati demikian, harga kemungkinan bisa berubah karena produksi ini masih dalam proses merintis.


0 komentar:

Posting Komentar