Selasa, 30 Januari 2018

Unik, Inilah Rumah Adat di Kelbung



(Foto: Rumah Adat di Desa Kelbung)
Setiap daerah memiliki sesuatu yang unik, salah satunya rumah adat. Jika di Jawa ada rumah adat Joglo, maka di Madura, khususnya desa Kelbung, ada rumah unik dengan halaman luas, atau dikenal sebagai tanean lanjheng. Berikut merupakan penuturan warga desa Kelbung terkait rumah adat.

Rumah adat di desa Kelbung rata-rata masih mengikuti gaya bangunan lawas. Setiap rumah terdapat halaman luas. Hal itu dimaksudkan agar sang pemilik rumah dapat mengadakan acara di tanah sendiri, dan tidak memakai lahan orang lain. Masyarakat sekitar menyebutnya “Bhelei”.

Setiap rumah memiliki tata letak yang sama, yaitu musala yang berada di depan, dapur dan kandang berada di belakang rumah. Sementara itu, terdapat satu halaman luas, musala, dan Bhelei (tanean lanjheng). Bentuk musala atau surau pada zaman itu mirip seperti rumah panggung yang memiliki kaki di bawahnya.

Rumah adat di Madura, khususnya Kelbung, dibedakan berdasarkan bentuknya, antara lain Kobenah, Kobelluh, Kompah, dan Kompresan. Kobelluh artinya berkaki delapan, yakni setiap rumah memiliki tiang atau disebut sesaka berjumlah delapan. Selanjutnya, Kompah, yakni rumah adat yang berkaki empat. Artinya, rumah ini memiliki empat tiang penyangga yang sejajar berada di depan rumah. Terakhir, Kompresan, yakni rumah ada yang bentuk bangunannya menyerupai sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah). Bangunan ini biasanya berbentuk memanjang ke samping.

Rumah adat di desa Kelbung sendiri masih tergolong banyak. Tampaknya, mayoritas penduduk membangun rumah adat jenis Kompresan. Sayangnya, seiring waktu, beberapa penduduk mulai membangun rumah modern sebagaimana rumah-rumah di daerah perkotaan. Menurut penuturan masyarakat, rumah tersebut cenderung meniru model rumah di Malaysia. Hal itu berkaitan dengan sebagian dari masyarakat desa Kelbung bekerja di luar negeri, khususnya Malaysia, sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

0 komentar:

Posting Komentar