Rabu, 31 Januari 2018

To Jeren, Batu Kuda Keramat Peninggalan Sejarah




(Foto: Batu Kuda/To Jeren)
Setiap tempat memiliki cerita unik tersendiri, mulai dari yang dapat diterima oleh akal sehat hingga kisah yang sulit diterima oleh nalar manusia. Bukan persoalan logis atau tidaknya cerita, melainkan tentang bagaimana suatu komunitas masyarakat mempercayai kisah tersebut, menceritakannnya secara turun-temurun, dan mengambil hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Desa Kelbung, Bangkalan, merupakan desa yang cukup banyak menyimpan cerita-cerita mistis bersejarah, salah satunya tentang To Jeren (Batu Kuda/Batu Jaran). To Jeren terletak di dusun Sambas, desa Kelbung. Seperti namanya, batu ini berbentuk jeren (Kuda). Menurut penuturan masyarakat, bentuk batu kuda tersebut bukanlah buatan manusia, melainkan ada peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya batu sakral tersebut.

Seorang warga dusun Rages, bapak Tollimin, menceritakan perihal sejarah To Jeren di dusun Sambas. Menurut beliau, batu tersebut ada sejak zaman perang Dhempo Abeng. Berdasarkan narasumber, fenomena To Jeren terjadi ketika Dhempo Abeng sedang mengadakan selamatan tumpeng, atau yang biasa disebut rokat dalam bahasa Madura. Namun, saat mengadakan rokat tersebut, tiba-tiba ada seorang musuh yang memanahnya dari atas. Anak panah itu mengenai kuda yang ditumpangi Dhempo Abeng, sehingga membuat kuda tersebut roboh. Pada saat itulah, kuda beserta tumpeng milik Dhempo Abeng tadi menjadi batu. Sementara itu, Dhempo Abeng sendiri menghilang, dan jejaknya tidak dapat diketahui.

Hingga saat ini, batu To Jeren dianggap mistis oleh penduduk di sekitar desa Kelbung. Ada banyak cerita tentang batu tersebut. Salah satunya, ketika ada orang yang ingin merusak batu dengan cara menggali, maka dengan seketika, orang itu meninggal. Adapun menurut cerita yang lain, pernah ada seseorang yang mengaku mendapat mimpi. Orang tersebut diminta untuk mengambil dan menggali bagian ekor batu Jaran. Namun, ketika orang itu menggali batu keramat tersebut, tak lama kemudian badannya membengkak, dan pada akhirnya meninggal dunia. Satu-satunya bukti peristiwa tersebut yakni terdapat bekas pecahan pada bagian ekor To Jeren. Karena itu, hampir setiap warga desa Kelbung mempercayai kekuatan gaib batu Kuda.

Adapun, cerita mistis lainnya yakni tentang penunggu di lokasi batu Jaran. Menurut penuturan warga, penunggu tersebut berupa kyai bernama kyai Bakir. Kyai Bakir dilukiskan sebagai sosok berbaju putih, yang menunggangi kuda berwarna putih. Selain kyai Bakir, diceritakan pula sosok macan putih yang konon berasal dari gunung Gegger.

Berbagai kisah unik terkait batu Jaran menarik untuk diceritakan sebagai referensi sejarah atau menambah folklore masyarakat desa Kelbung. Sayangnya, penelusuran lebih mendalam terkait batu Jaran hanya cukup sampai di sini. Banyak narasumber telah meninggal dunia –salah satunya ustaz Musawi– dan cerita batu Jaran belum tersampaikan sepenuhnya kepada generasi muda. Hanya beberapa saja yang dapat diceritakan secara lisan, sementara tidak ada usaha penulisan sejarah oleh para ahli. Hal itu membuat kisah batu Jaran ini hanya sebagai cerita rakyat terpotong-potong yang masih mengandung banyak misteri.


0 komentar:

Posting Komentar