Selasa, 30 Januari 2018

Rokat Buju', Tradisi Lama yang Masih Bertahan



(Ilustrasi: tradisi selamatan)

Tradisi pada zaman dahulu banyak yang telah berubah. Jika pada zaman dahulu kuburan kramat terdapat semacam upacara selamatan dengan menyediakan tumpeng dan menyembelih hewan ternak seperti sapi, ataupun kambing. Namun kebiasaan atau tradisi tersebut perlahan-lahan mengalami perubahan. Upacara (kebiasaan) tersebut biasanya diadakan di masjid bersamaan dengan para kyai dalam sebuah pengajian.
Atau bisa juga upacara tersebut diadakan langsung di kuburan keramat (rokat buju’), mulai dari penyembelihan hewan hingga persiapan tumpeng semuanya dilaksanakan tepat di pekuburan (bhuju’) tersebut. Kebiasaan ini diadakan rutin setiap tahun pada masa itu. Tiap kuburan (bhuju’) memiliki gilirannya masing-masing. Misalkan bhuju’ yang satu diadakan pada bulan Januari, maka bhuju’ selanjutnya diadakan pada bulan selanjutnya juga.

Secara etimologis, rokat buju’ berasal dari dua kata, yakni rokat yang berarti “selamatan” dan Buju’ yang artinya “makam”. Makam di sini bukanlah pekuburan pada umumnya, melainkan tempat meninggal khusus para sesepuh yang sangat berpengaruh di desa Kelbung. 

Berdasarkan informasi dari masyarakat, ada beberapa buju’ di desa Kelbung, antara lain buju’ lipan, buju baddrah, buju’ anggeteronah, buju’ nurhasanah, buju’ mukarromah, buju’ pangeranan, dan buju’ sayyid abdullah anges. Dari beberapa Buju’ tersebut, seorang tetua desa bernama pak Amri, dapat menjelaskan sekilas tentang satu Buju’, yakni Buju’ Anggeteronah. Berikut penjelasan beliau terkait buju’ tersebut.

Buju’ anggeteronah merupakan salah satu buju’ yang ada di desa Kelbung. Buju’ ini menyisakan peninggalan bersejarah berupa Alquran. Alquran ini berbeda dengan Alquran pada umumnya. Perbedaan tersebut terletak pada teknik penulisannya, yakni bukan dengan mesin cetak, melainkan tulis tangan dengan menggunakan Sa’ar (getah pohon aren). Menurut cerita yang disampaikan oleh bapak Amri, dahulu, setiap ada burung yang terbang diatas Alquran tersebut, maka burung itu akan jatuh. Menurut beliau, sampai saat ini kitab suci itu masih dapat dibaca.

Selain cerita tersebut, ada beberapa mitos yang beredar terkait dengan buju' di desa Kelbung. Beberapa di antaranya yakni, mitos yang beredar di desa Pangloros. Di sana terdapat sungai yang diyakini tidak ingin tercampur dengan darah. Menurut penuturan warga, pernah terjadi kecelakaan di dekat sungai tersebut, namun tidak ada korban jiwa. Hal itu dikarenakan sungai tersebut berdekatan dengan lokasi buju'.

Masyarakat Pangloros, desa Kelbung, juga meyakini di sungai tersebut ada sosok nenek-nenek memakai tongkat. Masyarakat juga meyakini, banyak tempat-tempat yang memiliki penunggu (makhluk gaib), salah satunya di dusun Sambas. Di sana, terdapat penunggu bapak-bapak yang menunggangi kuda putih dan memakai baju serba putih. Adapun, selain penunggu, juga terdapat peninggalan kuno yang tak kasat mata, seperti tombak, mangkok, gelas, piring, mustika yang terbuat dari biji buah Kelor, dan mustika merah delima. Hal itu dituturkan langsung oleh ustaz Mahsum.

"Hal-hal seperti itu banyak di Kelbung. Cuma hanya beberapa orang saja yang melihat. Dan hanya beberapa orang saja yang bisa mendapatkannya, karena kalau bukan keturunan asli, tidak bisa mewarisi peralatan tersebut. Di samping itu juga butuh bertapa 41 malam."


0 komentar:

Posting Komentar