Kelbung Is Wonderfull

Sebuah desa dengan penuh cerita.

Kerajinan Tas Bahan Baku Tali Agel

DESA KELBUNG, DUSUN SAMBAS....

Senyum Ceria Siswa SD Kelbung 2

Mengabdi tanpa rasa lelah...

TIM LPPM DAN KKN Kelompok 30

Kunjungan Pertama LPPM di Posko KKN Kelompok 30...

PELATIHAN MENGOLAH KRIPIK PISANG

memanfaatkan potensi pangan desa Kelbung...

Rabu, 31 Januari 2018

Selayang Pandang Desa Kelbung



(Foto: Pintu Gerbang Masuk Desa Kelbung)

Kelbung merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia. Lokasinya terletak 8 km dari pusat Kecamatan Sepulu yang dapat ditempuh dengan jarak 45 km dari pusat kota Bangkalan.

Desa Kelbung terdiri dari 7 dusun yaitu Dusun Sibalan, Dusun Pangloros, Dusun Longkak, Dusun Nibung,  Dusun Tema’ah, Dusun Rages dan Dusun Gayung. Ketujuh dusun tersebut berada pada lahan desa Kelbung seluas 10,11 km2 dengan jumlah penduduk 5.909 jiwa, dengan rincian sebanyak 2.914 jiwa penduduk laki-laki dan 2.995 jiwa penduduk perempuan.

Desa Kelbung berada pada area perbukitan yang masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat serta nilai-nilai agama. Slogan “Desa Dzikir dan Sholawat” akan dijumpai saat memasuki kawasan desa. Hal tersebut mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang mana terdapat kurang lebih tiga pondok pesantren serta kegiatan rutin yaitu pengajian yang diadakan setiap hari Jumat.

Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani yang sistem pertaniannya masih sangat bergantung pada musim. Para petani menanam padi saat musim hujan sedangkan pada musim kemarau menanam jagung sebagai tanaman pengganti padi. Mereka mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairannya sebab di desa tersebut sangat minim sumber mata air. Selain itu, penduduk Desa Kelbung bekerja sebagai TKI (tenaga kerja Indonesia), peternak sapi, serta sebagai pengrajin Tali Agel.

Potensi hasil pangan yang ada di desa Kelbung berupa padi, pisang, dan singkong. Utamanya singkong dulunya pernah menjadi makanan pokok masyarakat sebab saat itu jumlah penghasilan padi belum maksimal. Sedangkan pada sektor peternakan terdapat sapi, kambing etawa dan ayam yang mana setiap saat dapat mereka jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Desa Kelbung memiliki banyak sejarah yang menarik untuk diketahui antara lain mitos batu Jaran, sejarah to baddung, batu po’on, serta cerita beberapa buju’ (makam kramat para tokoh desa) yang ada di desa Kelbung. Panorama desa Kelbung sangat mempesona. Hal tersebut dapat dilihat saat berada di puncak bukit. Di sisi utara terlihat hamparan laut jawa yang sangat indah sementara di sisi selatan tampak gugusan perbukitan yang mempesona.  Selain itu, desa Kelbung sebagai desa yang berkawasan di daeran perbukitan yang memiliki pemandangan sangat mengagumkan berpotensi untuk dijadikan destinasi wisata bukit.


To Jeren, Batu Kuda Keramat Peninggalan Sejarah




(Foto: Batu Kuda/To Jeren)
Setiap tempat memiliki cerita unik tersendiri, mulai dari yang dapat diterima oleh akal sehat hingga kisah yang sulit diterima oleh nalar manusia. Bukan persoalan logis atau tidaknya cerita, melainkan tentang bagaimana suatu komunitas masyarakat mempercayai kisah tersebut, menceritakannnya secara turun-temurun, dan mengambil hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Desa Kelbung, Bangkalan, merupakan desa yang cukup banyak menyimpan cerita-cerita mistis bersejarah, salah satunya tentang To Jeren (Batu Kuda/Batu Jaran). To Jeren terletak di dusun Sambas, desa Kelbung. Seperti namanya, batu ini berbentuk jeren (Kuda). Menurut penuturan masyarakat, bentuk batu kuda tersebut bukanlah buatan manusia, melainkan ada peristiwa sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya batu sakral tersebut.

Seorang warga dusun Rages, bapak Tollimin, menceritakan perihal sejarah To Jeren di dusun Sambas. Menurut beliau, batu tersebut ada sejak zaman perang Dhempo Abeng. Berdasarkan narasumber, fenomena To Jeren terjadi ketika Dhempo Abeng sedang mengadakan selamatan tumpeng, atau yang biasa disebut rokat dalam bahasa Madura. Namun, saat mengadakan rokat tersebut, tiba-tiba ada seorang musuh yang memanahnya dari atas. Anak panah itu mengenai kuda yang ditumpangi Dhempo Abeng, sehingga membuat kuda tersebut roboh. Pada saat itulah, kuda beserta tumpeng milik Dhempo Abeng tadi menjadi batu. Sementara itu, Dhempo Abeng sendiri menghilang, dan jejaknya tidak dapat diketahui.

Hingga saat ini, batu To Jeren dianggap mistis oleh penduduk di sekitar desa Kelbung. Ada banyak cerita tentang batu tersebut. Salah satunya, ketika ada orang yang ingin merusak batu dengan cara menggali, maka dengan seketika, orang itu meninggal. Adapun menurut cerita yang lain, pernah ada seseorang yang mengaku mendapat mimpi. Orang tersebut diminta untuk mengambil dan menggali bagian ekor batu Jaran. Namun, ketika orang itu menggali batu keramat tersebut, tak lama kemudian badannya membengkak, dan pada akhirnya meninggal dunia. Satu-satunya bukti peristiwa tersebut yakni terdapat bekas pecahan pada bagian ekor To Jeren. Karena itu, hampir setiap warga desa Kelbung mempercayai kekuatan gaib batu Kuda.

Adapun, cerita mistis lainnya yakni tentang penunggu di lokasi batu Jaran. Menurut penuturan warga, penunggu tersebut berupa kyai bernama kyai Bakir. Kyai Bakir dilukiskan sebagai sosok berbaju putih, yang menunggangi kuda berwarna putih. Selain kyai Bakir, diceritakan pula sosok macan putih yang konon berasal dari gunung Gegger.

Berbagai kisah unik terkait batu Jaran menarik untuk diceritakan sebagai referensi sejarah atau menambah folklore masyarakat desa Kelbung. Sayangnya, penelusuran lebih mendalam terkait batu Jaran hanya cukup sampai di sini. Banyak narasumber telah meninggal dunia –salah satunya ustaz Musawi– dan cerita batu Jaran belum tersampaikan sepenuhnya kepada generasi muda. Hanya beberapa saja yang dapat diceritakan secara lisan, sementara tidak ada usaha penulisan sejarah oleh para ahli. Hal itu membuat kisah batu Jaran ini hanya sebagai cerita rakyat terpotong-potong yang masih mengandung banyak misteri.


Kisah Menarik Tentang Kelbung, Dari Benda Fisik Hingga Benda Gaib



(Foto: Alquran dan Keris Peninggalan Leluhur Kelbung)
Desa Kelbung yang terletak di daerah pegunungan memiliki banyak cerita menarik, khususnya terkait benda-benda peninggalan nenek moyang. Berdasarkan penuturan seorang warga, benda peninggalan tersebut ada yang dapat dilihat dengan mata telanjang, namun ada yang tidak bisa dilihat (hanya orang tertentu saja yang dapat melihatnya). Berikut merupakan penuturan warga terkait benda-benda itu.

Menurut bapak Amri, salah satu benda peninggalan yang terdapat di Kelbung adalah kitab suci Alquran miliknya. Kitab tersebut berukuran lebih besar daripada Alquran pada umumnya. Jika ditelusuri lebih dekat, kertas kitab tampak jelas dengan huruf yang masih bisa dibaca. Berdasarkan narasumber, kitab tersebut ditulis tangan secara langsung menggunakan tinta. Kertas Alquran itu juga terbuat dari jerami.

Walaupun beberapa kertas telah lepas dari benang jahitan kitab, kini, Januari 2018, kondisi Alquran tersebut masih dapat dibaca. Bapak Amri merawat kitab suci tersebut yakni membungkusnya dengan kain putih. Beliau juga berkata bahwa Alquran itu setiap hari dibaca.

Adapun selain Alquran, bapak Amri juga memiliki peninggalan lain, yakni keris. Menurut penuturan beliau, keris ini dahulu mengandung kekuatan gaib. Namun, kini kekuatan gaib itu hilang. Beliau berkata bahwa kini tidak lagi “memandikan” keris sebagaimana dahulu. Keris tersebut hanya dicuci sebagaimana benda-benda peninggalan lainnya.

Berbeda halnya dengan bapak Amri, menurut penuturan ustaz Mahsum, sebenarnya banyak benda peninggalan di Kelbung selain keris dan Alquran. Beliau menyebutkan beberapa di antaranya peralatan dapur (mangkok, piring, gelas) yang dulunya ada di lapangan, tapi sekarang sudah disimpan dan yang menyimpannya tersebut belum diketahui siapakah orangnya.

Selain peralatan dapur, ustaz Mahsum juga menyebutkan benda peninggalan tak kasat mata lainnya, yaitu mustika yang terbuat dari biji buah kelor. Mustika tersebut, menurut beliau, disimpan di tempat tersembunyi dan tidak ada yang tahu karena sejenis benda gaib. Selain itu, juga ada mustika merah delima, yang apabila dicelupkan ke dalam air, maka air tersebut akan berubah warna menjadi merah.

Selain mustika, benda peninggalan gaib lainnya yakni cambuk yang terbuat dari “besi ular”. Tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait dengan cambuk ini. Ustaz Mahsum, lebih lanjut, menjelaskan tentang benda peninggalan lain, yakni tombak. Konon, tombak ini dibuat oleh seorang kyai bernama kyai Bakir. Benda tersebut disimpan di dalam kuburan. Siapapun dapat mengambilnya dengan syarat bertapa dan berpuasa selama 41 malam. Telah banyak warga yang mencobanya, tapi rata-rata tidak mampu. Tidak ada satu pun yang berhasil.

Selain peninggalan benda-benda, ustaz Mahsum juga mengatakan sering terjadi kejadian aneh di desa Kelbung. Salah satunya, yakni kuburan yang dapat bersinar hingga menembus langit ke-7. Tidak ada bukti ilmiah terkait hal ini. Namun, kepercayaan ini masih melekat kuat di benak masyarakat desa Kelbung.


Selasa, 30 Januari 2018

Rokat Buju', Tradisi Lama yang Masih Bertahan



(Ilustrasi: tradisi selamatan)

Tradisi pada zaman dahulu banyak yang telah berubah. Jika pada zaman dahulu kuburan kramat terdapat semacam upacara selamatan dengan menyediakan tumpeng dan menyembelih hewan ternak seperti sapi, ataupun kambing. Namun kebiasaan atau tradisi tersebut perlahan-lahan mengalami perubahan. Upacara (kebiasaan) tersebut biasanya diadakan di masjid bersamaan dengan para kyai dalam sebuah pengajian.
Atau bisa juga upacara tersebut diadakan langsung di kuburan keramat (rokat buju’), mulai dari penyembelihan hewan hingga persiapan tumpeng semuanya dilaksanakan tepat di pekuburan (bhuju’) tersebut. Kebiasaan ini diadakan rutin setiap tahun pada masa itu. Tiap kuburan (bhuju’) memiliki gilirannya masing-masing. Misalkan bhuju’ yang satu diadakan pada bulan Januari, maka bhuju’ selanjutnya diadakan pada bulan selanjutnya juga.

Secara etimologis, rokat buju’ berasal dari dua kata, yakni rokat yang berarti “selamatan” dan Buju’ yang artinya “makam”. Makam di sini bukanlah pekuburan pada umumnya, melainkan tempat meninggal khusus para sesepuh yang sangat berpengaruh di desa Kelbung. 

Berdasarkan informasi dari masyarakat, ada beberapa buju’ di desa Kelbung, antara lain buju’ lipan, buju baddrah, buju’ anggeteronah, buju’ nurhasanah, buju’ mukarromah, buju’ pangeranan, dan buju’ sayyid abdullah anges. Dari beberapa Buju’ tersebut, seorang tetua desa bernama pak Amri, dapat menjelaskan sekilas tentang satu Buju’, yakni Buju’ Anggeteronah. Berikut penjelasan beliau terkait buju’ tersebut.

Buju’ anggeteronah merupakan salah satu buju’ yang ada di desa Kelbung. Buju’ ini menyisakan peninggalan bersejarah berupa Alquran. Alquran ini berbeda dengan Alquran pada umumnya. Perbedaan tersebut terletak pada teknik penulisannya, yakni bukan dengan mesin cetak, melainkan tulis tangan dengan menggunakan Sa’ar (getah pohon aren). Menurut cerita yang disampaikan oleh bapak Amri, dahulu, setiap ada burung yang terbang diatas Alquran tersebut, maka burung itu akan jatuh. Menurut beliau, sampai saat ini kitab suci itu masih dapat dibaca.

Selain cerita tersebut, ada beberapa mitos yang beredar terkait dengan buju' di desa Kelbung. Beberapa di antaranya yakni, mitos yang beredar di desa Pangloros. Di sana terdapat sungai yang diyakini tidak ingin tercampur dengan darah. Menurut penuturan warga, pernah terjadi kecelakaan di dekat sungai tersebut, namun tidak ada korban jiwa. Hal itu dikarenakan sungai tersebut berdekatan dengan lokasi buju'.

Masyarakat Pangloros, desa Kelbung, juga meyakini di sungai tersebut ada sosok nenek-nenek memakai tongkat. Masyarakat juga meyakini, banyak tempat-tempat yang memiliki penunggu (makhluk gaib), salah satunya di dusun Sambas. Di sana, terdapat penunggu bapak-bapak yang menunggangi kuda putih dan memakai baju serba putih. Adapun, selain penunggu, juga terdapat peninggalan kuno yang tak kasat mata, seperti tombak, mangkok, gelas, piring, mustika yang terbuat dari biji buah Kelor, dan mustika merah delima. Hal itu dituturkan langsung oleh ustaz Mahsum.

"Hal-hal seperti itu banyak di Kelbung. Cuma hanya beberapa orang saja yang melihat. Dan hanya beberapa orang saja yang bisa mendapatkannya, karena kalau bukan keturunan asli, tidak bisa mewarisi peralatan tersebut. Di samping itu juga butuh bertapa 41 malam."


Unik, Inilah Rumah Adat di Kelbung



(Foto: Rumah Adat di Desa Kelbung)
Setiap daerah memiliki sesuatu yang unik, salah satunya rumah adat. Jika di Jawa ada rumah adat Joglo, maka di Madura, khususnya desa Kelbung, ada rumah unik dengan halaman luas, atau dikenal sebagai tanean lanjheng. Berikut merupakan penuturan warga desa Kelbung terkait rumah adat.

Rumah adat di desa Kelbung rata-rata masih mengikuti gaya bangunan lawas. Setiap rumah terdapat halaman luas. Hal itu dimaksudkan agar sang pemilik rumah dapat mengadakan acara di tanah sendiri, dan tidak memakai lahan orang lain. Masyarakat sekitar menyebutnya “Bhelei”.

Setiap rumah memiliki tata letak yang sama, yaitu musala yang berada di depan, dapur dan kandang berada di belakang rumah. Sementara itu, terdapat satu halaman luas, musala, dan Bhelei (tanean lanjheng). Bentuk musala atau surau pada zaman itu mirip seperti rumah panggung yang memiliki kaki di bawahnya.

Rumah adat di Madura, khususnya Kelbung, dibedakan berdasarkan bentuknya, antara lain Kobenah, Kobelluh, Kompah, dan Kompresan. Kobelluh artinya berkaki delapan, yakni setiap rumah memiliki tiang atau disebut sesaka berjumlah delapan. Selanjutnya, Kompah, yakni rumah adat yang berkaki empat. Artinya, rumah ini memiliki empat tiang penyangga yang sejajar berada di depan rumah. Terakhir, Kompresan, yakni rumah ada yang bentuk bangunannya menyerupai sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah). Bangunan ini biasanya berbentuk memanjang ke samping.

Rumah adat di desa Kelbung sendiri masih tergolong banyak. Tampaknya, mayoritas penduduk membangun rumah adat jenis Kompresan. Sayangnya, seiring waktu, beberapa penduduk mulai membangun rumah modern sebagaimana rumah-rumah di daerah perkotaan. Menurut penuturan masyarakat, rumah tersebut cenderung meniru model rumah di Malaysia. Hal itu berkaitan dengan sebagian dari masyarakat desa Kelbung bekerja di luar negeri, khususnya Malaysia, sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Kondisi Demografi Desa Kelbung



(Ilustrasi: Kondisi Demografi)
  
Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Jumlah penduduk di desa Kelbung sebagian besar bekerja sebagai petani, sedangkan sebagian yang lain bekerja sebagai TKI atau merantau ke luar kota, peternak sapi, penambang batu, PNS, dan pengrajin kerajinan tangan tali agel. Para petani di desa Kelbung menanam padi saat musim hujan. Sementara saat musim kemarau memilih untuk mengembara hewan ternaknya. Penduduk desa yang bekerja sebagai penambang batu merupakan pendudukan yang tinggal di dusun Sambas, dan yang bekerja sebagai pengrajin kerajinan tangan tali agel merupakan penduduk di dusun Sambas. 



(Foto: Masjid di Dusun Temaah)

Agama

Mayoritas penduduk desa Kelbung memeluk Agama Islam. Hal ini tertuang dalam slogan “desa Kelbung desa Dzikir dan Sholawat”. Dalam kenyatannya masyarakat desa Kelbung sangat menjunjung tinggi nilai religiusitas, terlihat bahwa di setiap rumah terdapat musala/surau, setiap hari Jumat dilakukan pengajian rutin oleh ibu-ibu. Selain itu, juga banyak berdiri pondok pesantren di desa Kelbung sebagai bentuk penanggulangan atau pengentasan kebodohan dan perbaikan akhlak, sehingga diharapkan slogan desa Kelbung benar-benar terwujud dan warga masyarakat benar-benar memiliki akhlakul karimah.



(Foto: Seorang Ibu Mencangkul Sawah di Dusun Temaah)


Pertanian dan Pengolahan Lahan

Masyarakat desa Kelbung sangat bergantung hidupnya dengan turunnya air hujan. Petani di desa Kelbung membajak lahan persawahan saat musim penghujan. Tanaman yang ditanam biasanya padi, jagung, dan kacang hijau. Sedangkan, saat musim kemarau petani tidak membajak sawah melainkan menanam singkong, pisang, atau ubi jalar. Ketiga jenis tanaman ini bukan merupakan penghasilan pokok petani saat musim kemarau, melainkan tanaman tersebut sebagai pelengkap kebutuhan sehari-hari. Kegiatan lain yang dilakukan petani saat musim kemarau, yaitu beternak dan memotong rumput.




(Foto: Siswa-siswi SDN 2 Kelbung)


Pendidikan 

Penduduk desa Kelbung memiliki tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan cukup tinggi, hal ini terbukti dengan antusias anak Kelbung dalam menuntut ilmu. Anak-anak di desa Kelbung setelah pulang dari sekolah dasar, melanjutkan belajarnya ke madrasah. Saat menjelang malam anak-anak pergi mengaji di musala/masjid. Lembaga pendidikan yang ada di desa terdiri atas empat lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), empat lembaga pendidikan sekolah dasar (SD), satu lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan dua pondok pesantren.



(Foto: Puskesdes di dusun Longkak)


Kesehatan

Ditinjau dari aspek kesehatan, desa Kelbung termasuk desa siaga, dimana penduduknya memiliki kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri. Terdapat beberapa kriteria dapat dikatakan desa siaga diantaranya; memiliki 1 orang tenaga bidan yang menetap di desa, memiliki minimal 1 bangunan pos kesehatan desa (Poskesdes) beserta perlengkapannya. Kedua kriteria ini telah dimilik oleh desa Kelbung. Sikap siaga masyarakat akan kesehatan, berdampak positif pada statistik kesehatan masyarakat, salah satunya yaitu meningkatnya angka kelahiran dibandingkan angka kematian. Pada tahun 2017 angka kelahiran mencapai 95,7%. Kegiatan yang dilakukan di desa yaitu Posyandu, Imunisasi, serta penyuluhan.

Minggu, 28 Januari 2018

Kondisi Geografis Desa Kelbung




(Ilustrasi: Peta Kecamatan Sepulu)

Luas dan Batas Wilayah Desa Kelbung

Secara Geografis Luas wilayah desa Kelbung sebesar 10,11 km2 yang merupakan wilayah dataran tinggi atau perbukitan. Keseluruhan wilayah tersebut terbagi atas area permukiman penduduk, lahan sawah, perkebunan, dan area penambangan batu. Desa Kelbung berbatasan langsung dengan tiga desa di kecamatan sepulu dan satu desa di kecamatan Gegger. Di sebelah utara desa Kelbung berbatasan dengan desa Banyiur Timur Kecamatan Sepulu, sebelah selatan berbatasan langsung dengan desa Banyunneng Laok Kecamatan Geger, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan desa Bengsereh Kecamatan Sepulu, dan di sebelah timur berbatasan dengan desa Gunelap Kecamatan Sepulu.

Lokasi Desa

Secara geografis  desa Kelbung merupakan salah satu desa yang terletak paling ujung selatan Kecamatan Sepulu. Jaraknya 45 km dari ibu kota Kabupaten Bangkalan, untuk bisa sampai ke desa Kelbung harus melewati kecamatan Arosbaya, Klampis, dan Sepulu. Dari pusat kecamatan sepulu (pasar ahadan sepulu) akan menemui pertigaan, kemudian berbelok ke arah selatan memasuki Jalan asem Jajar Lurus di desa Banyior, melewati desa Sabungan, setelah itu lurus melewati desa Lentok, dilanjutkan ke desa Bangsereh, kemudian ada pertigaan, belok ke kiri masuk ke dusun Jurumbey Bangsereh, setelah itu jalan terus mengikuti jalan sampai akhirnya menemui gapura bertuliskan “selamat datang di desa kelbung desa sholawat dan dzikir” dan sampai di Desa Kelbung.







Asal-Usul Nama Desa "Kelbung"



(Foto: Mahasiswa Bersama Narasumber Ustaz Mahsum)


Kelbung memiliki banyak kisah sejarah yang unik. Namun, nama "Kelbung" sendiri bukanlah nama pertama desa ini. Ada nama lain sebelumnya. Sayangnya, ketika ditanya nama desa sebelum "Kelbung", masyarakat tidak mengetahui. Kebanyakan masyarakat justru menganggap bahwa "Kelbung" adalah nama pertama.

Sebelumnya, nama desa ini telah ditelusuri ke beberapa narasumber antara lain bapak Amri, ustaz Umar, ustaz Rusdi, dan bapak Mardawi. Namun, para ustaz dan tokoh masyarakat tersebut tidak ada yang mengetahui. Satu-satunya data yang bisa diambil yaitu dari bapak ustaz Mahsum. Berikut keterangan sejarah asal-usul nama desa berdasarkan penjelasan beliau.

Kata "Kelbung" berkaitan dengan sejarah perisitwa G30S PKI. Kisah ini berkaitan dengan peristiwa pembantaian yang dilakukan PKI terhadap kaum yang kontra dengan paham komunis. Pembantaian tersebut dilakukan dengan sangat kejam.

Orang-orang komunis membunuh satu per satu orang yang tidak sejalan dengan paham yang dianutnya. Mereka membunuh dengan memenggal kepala, kemudian membuang mayat mereka ke sungai. Mayat yang dibuang ke sungai selama berhari-hari menjadi "kembung". Dari sinilah nama desa "Kelbung" terbentuk. "Kelbung" berasal dari kata e ghel-ghel yang berarti "memenggal". Sementara bunyi "bung" berasal dari peristiwa perut mayat yang melembung di sungai.

Ketika ditanya tentang nama desa sebelum "Kelbung", ustaz Mahsum mengatakan tidak tahu. "Saya lupa," demikian beliau mengatakan. Berdasarkan penuturan masyarakat, sejarah desa banyak diketahui oleh almarhum ustaz Musawi. Namun, karena kurangnya penuturan sejarah lisan kepada para pemuda, nama desa pertama tidak dapat ditelusuri.

Perlu diketahui sebelumnya, ustaz Mahsum adalah kemenakan dari almarhum ustaz Musawi. Oleh karena itu, untuk sementara ini, satu-satunya data yang dapat dipercaya adalah data dari beliau. 



Beginilah, Pelatihan Produksi Kripik Pisang Mahasiswa Trunojoyo dengan Warga Kelbung



(Foto: Warga Membawa Produk Kripik Pisang KKN 30)


Kuliah Kerja Nyata Kelompok 30, Universitas Trunojoyo Madura, mengadakan pelatihan produksi kripik Pisang di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan. Dimulai sekitar pukul 08.00 hingga 10.00, pelatihan ini berhasil dilaksanakan di rumah kepala desa Kelbung, bapak Muhammad Isni.

Pelatihan yang dihadiri oleh 11 warga dusun Sibalan ini bertujuan untuk pemaparan proses produksi kripik Pisang beserta cara pemasarannya. “Pada dasarnya, pelatihan ini sama dengan pelatihan sebelumnya, yakni produksi kripik Singkong. Satu-satunya perbedaannya, pada pelatihan ini lebih mudah karena minyak tidak terlalu melekat di kripik Pisang. Berbeda daripada kripik Singkong, sebelumnya,” ujar Lutfhianti Elok, salah satu pelatih produksi kripik Pisang ini.

Terkait pemasaran, Cholis Bayu selaku pelatih pemasaran memaparkan materi yang telah disampaikan. “Ada beberapa yang tadi disampaikan, antara lain bagaimana caranya menentukan segmentasi pasar, membuat produk kita unik dan berbeda dari yang lain, pembuatan tester untuk pelanggan, dan bagaimana caranya bekerja sama reseller,” ucapnya.

Kendati pelatihan ini berhasil dilaksanakan, para warga masih terkendal alat produksi kripik Pisang seperti spinner untuk meniriskan kripik dari minyak, dan alat pemotong untuk pembuatan kripik.  



Terkendala Alat Produksi Kripik Singkong, Mahasiswa Trunojoyo Berkoordinasi dengan Kepala Desa Kelbung



(Foto: Pelatihan Kripik Singkong)


Kuliah Kerja Nyata Kelompok 30, Universitas Trunojoyo Madura, mengadakan pelatihan pembuatan kripik singkong di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan. Dimulai sekitar pukul 08.00 hingga 10.00, pelatihan ini berhasil dilaksanakan di rumah kepala desa bapak Muhammad Isni, dihadiri oleh 11 warga dusun Sibalan.

“Ini merupakan salah satu wujud sumbasih kami kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pembuatan kripik Singkong beserta proses pemasarannya,” ucap koordinator desa, Muhammad Rezal Wira Fiqri. Lebih lanjut mahasiswa asal Gresik itu menjelaskan materi pelatihan kali ini, yakni proses pembuatan kripik Singkong dan pemasaran lewat media massa.

“Kami di sini belajar berbagi kepada masyarakat terkait proses pembuatan kripik Singkong, mulai dari pengupasan kulit, pencucian, pemotongan, penggorengan, pemberian bumbu, hingga pengemasan,” tambahnya.

Adapun kendala teknis pelatihan ini adalah kurangnya peralatan yang memadai. “Masyarakat Kelbung belum punya alat pemotong Singkong, alat peniris minyak setelah kripik digoreng, dan alat pengemas makanan. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi masyarakat, karena untuk sementara ini kami yang menyediakan peralatan produksi kripik Singkong ini,” ujar Fahmi, salah satu pelatih program kerja ini.

Kendati demikian, mahasiswa KKN Kelompok 30 masih dalam tahap koordinasi dengan bapak kepala desa Isni terkait alat produksi, agar kripik Singkong ini tetap diproduksi ketika para peserta KKN sudah menyelesaikan kewajiban di desa Kelbung.



Ketika Mahasiswa Trunojoyo Menjadi Sukarelawan di Kelbung



(Foto: Pelatihan Melek Huruf dan Melek Teknologi)

Tim pengajar KKN Kelompok 30, Universitas Trunojoyo Madura, mengadakan pelatihan melek huruf dan melek teknologi di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan pada Minggu (14/1). Dimulai sekitar pukul 19.30 hingga 22.00, pelatihan dilaksanakan di tiga dusun yang berbeda, yakni Sibalan, Pangloros, dan Sambas.

“Untuk program melek huruf, kami menyasar para orang tua yang buta aksara, sementara untuk program melek teknologi, kami membidik para pemuda yang belum terampil komputer,” ujar Muhammad Rezal Wira Fiqri.

Lebih lanjut, mahasiswa asal Gresik itu menjelaskan, pelatihan ini akan dilaksanakan selama satu bulan ke depan di tempat yang berbeda-beda. “Kami membentuk tiga tim. Satu tim pengajar terdiri atas 6 anggota, yakni 3 orang pengajar melek huruf dan 3 orang pengajar melek teknologi. Nanti, akan diadakan rolling, sehingga setiap tim bisa merasakan pengalaman mengajar di tempat yang berbeda-beda,” ucapnya.

Pelatihan perdana ini berhasil dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda. Di dusun Sibalan, bertempat di rumah kepala desa bapak Muhammad Isni dihadiri oleh 9 peserta, sementara di dusun Pangloros bertempat di rumah ketua dusun bapak Marwi dihadiri sebanyak 12 peserta, dan di dusun Sambas bertempat di rumah ibu Hamida selaku ketua kerajinan produksi tas tali Agel dihadiri sebanyak 25 peserta. 



Kedatangan Tamu Baru, Warga Kelbung Sambut Antusias Mahasiswa Trunojoyo



(Foto: Pembukaan Mahasiswa KKN)

Kuliah Kerja Nyata Kelompok 30, Universitas Trunojoyo Madura, mengadakan pembukaan KKN di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan pada Sabtu (13/1). Dihadiri oleh kepala desa Kelbung, bapak Muhammad Isni, dan beberapa tokoh masyarakat, acara berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 12.20 WIB.

Dalam sambutannya, bapak Isni menyambut antusias para peserta KKN. “Selamat datang, dan semoga mudah berbaur dengan budaya masyarakat desa,” ucapnya. Sementara itu, koordinator desa (Kordes), Muhammad Rezal Wira Fiqri, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat desa Kelbung yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan KKN. “Alhamdulillah, terima kasih kepada bapak kepala desa dan seluruh masyarakat desa Kelbung. Insyaallah, program kami mulai aktif pada Senin depan,” ujar mahasiswa jurusan Pendidikan Informatika itu.

Lebih lanjut, Kordes juga memaparkan program kerja yang akan dilaksanakan selama KKN, antara lain pengembangan wisata bukit dan batu jaran, pemasaran kerajinan tali Agel, dan pelatihan melek huruf dan melek teknologi. Sepanjang acara, para tokoh masyarakat cukup aktif menanggapi program kerja yang telah dipaparkan.

Diselingi humor ringan, diskusi antara mahasiswa dengan tokoh masyarakat terkait penentuan jadwal proker dan tempat pelaksanaan, berlangsung lancar. Diskusi menghasilkan keputusan, antara lain proker melek huruf dan melek teknologi akan dilaksanakan selama 4 kali dalam seminggu di tiga dusun, yakni Sibalan, Pangloros, dan Sambas. Sementara pelatihan pemasaran produk kripik Singkong, kripik Pisang, dan kerajinan tali Agel akan dilaksanakan sekali per minggu. Acara ini ditutup pembacaan doa oleh ustaz Umar, dan diakhiri dengan foto bersama. 



Kamis, 25 Januari 2018

KERAJINAN TAS BAHAN BAKU TALI AGEL


Asli Madura, Kerajinan Tangan ini Populer di Mancanegara




Berbicara Madura, kebanyakan orang pasti hanya mengenal aksesori seperti miniatur celurit dan baju Sakera. Namun, jika Anda pergi ke dusun Sambas, desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan, maka akan menemukan satu kerajinan khas yang telah mendunia, yakni kerajinan tangan dari Daun Agel.

Daun Agel sendiri tumbuh subur di Kecamatan Kokop, Bangkalan. Siapa sangka, daun ini dikemudian hari menjadi komoditas utama masyarakat Sambas. Hal itu berlangsung sejak pertemuan antara warga Sambas dengan seorang turis asal Filipina sekitar tahun 2001. Pertemuan tersebut berlanjut pada suatu tawaran menarik untuk bekerja sama dengan Yayasan Pondok Kasih, Surabaya.

Bentuk kerja sama itu kini menuai hasil. Daun Agel yang tumbuh subur di daerah Kokop dikelola oleh warga sekitar untuk dipilin menjadi tali memanjang. Jika konsumen meminta produk berwarna, maka tali akan disetorkan terlebih dahulu ke yayasan untuk proses pewarnaan dan penghilangan bau. Setelah itu, tali tersebut diproses di daerah Sambas, untuk dibentuk menjadi aksesori sesuai pesanan, mulai dari tas, vas bunga, gelang, dan tempat tisu. Pada tahap akhir seperti pemberian resleting, bahan-bahan akan dikirim ke pihak yayasan, untuk kemudian dikelola pada proses finishing, dan diekspor ke mancanegara.

“Dikirim ke Amerika, Australia, Swiss, dan masih banyak lagi,” tutur ibu Hamida, ketua produksi kerajinan warga Sambas ini. Lebih lanjut, beliau mengatakan kini terdapat 1000 pesanan tas dari Daun Agel untuk dikirim ke Jepang pada 9 Februari 2018.  “Produksi dimulai sekitar bulan Oktober 2017. Direncanakan rampung pada Februari nanti,” pungkasnya.

Berbagai pelatihan telah dilaksanakan, baik oleh pihak Yayasan Pondok Kasih Surabaya, maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangkalan. Sayangnya, kerajinan tali Agel ini mendapat tantangan pada tahap pemasaran di daerah. Hal itu tentunya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pihak stake holder yang bersangkutan agar semakin mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya warga pendatang dari Kalimantan Barat ini, sebagaimana tertulis pada katalog Yayasan Pondok Kasih, “Our hope is to aid in the creation of dignified and sustainable jobs that will break the cyle of poverty in families and communities around Indonesia.”


*Tulisan ini juga dimuat di halaman koran Surya dengan judul "Orang Jepang Pilih Agel Madura". Berikut link http://surabaya.tribunnews.com/2018/02/02/orang-jepang-pilih-agel-madura