Kelbung Is Wonderfull

Sebuah desa dengan penuh cerita.

Kerajinan Tas Bahan Baku Tali Agel

DESA KELBUNG, DUSUN SAMBAS....

Senyum Ceria Siswa SD Kelbung 2

Mengabdi tanpa rasa lelah...

TIM LPPM DAN KKN Kelompok 30

Kunjungan Pertama LPPM di Posko KKN Kelompok 30...

PELATIHAN MENGOLAH KRIPIK PISANG

memanfaatkan potensi pangan desa Kelbung...

Minggu, 04 Februari 2018

Uniknya Dusun Sambas di Desa Kelbung



(Foto: Warga Sambas)

Di desa Kelbung, terdapat sebuah dusun yang bernama dusun Sambas. Penduduk di dusun Sambas merupakan masyarakat pendatang dari kota Sambas, Kalimantan Barat. Mereka adalah pengungsi yang mengalami konflik di Sambas.

Konflik di Sambas ini terjadi pada tahun 1999. Kejadian tersebut melibatkan konflik antara tiga suku yakni Melayu, Madura, dan Dayak. Setelah konflik mereda, pasukan TNI datang ke kota Sambas kemudian membawa warga untuk diungsikan ke Pontianak. Sesampainya di Pontianak, kemudian dikembalikan ke daerah asal masing-masing. Pengungsi yang berasal dari Madura ditampung ke dinas kependudukan Bangkalan, kemudian oleh bupati Bangkalan diberikan bantuan permukiman di desa Kelbung yang saat itu masih masuk dalam kawasan dusun Pangloros.

Karena merupakan dusun pendatang, terdapat pengaruh budaya yang dibawa oleh masyarakat Sambas, yaitu beberapa bentuk rumah. Pada beberapa rumah, ditemui  rumah adat asal Kalimantan yang disebut rumah panggung. Rumah panggung ini berbentuk seperti panggung. Setiap rumah terdapat sebuah ruang seperti panggung di bawah alas rumahnya. Ruang ini berguna sebagai tempat menyimpan kayu bakar.


Selain terkenal sebagai dusun yang unik karena produk tali agel dan beberapa rumah panggungnya, di dusun Sambas juga terdapat sebuah waduk buatan yang mampu menarik perhatian para pengunjung dusun pendatang ini. Waduk ini merupakan  bantuan dari wisatawan asing yang sedang berkunjung ke pengerajin rajutan tali agel. Wisatawan asing tersebut berasal dari Kanada. Bantuan tersebut diberikan kepada warga Sambas salah satunya untuk membantu warga dalam memperoleh air bersih, mengingat sulitnya sumber mata air di dusun tersebut. Selain itu, warga juga sering menggunakan waduk tersebut untuk tempat mencuci juga anak-anak berenang.


Sabtu, 03 Februari 2018

Masih Lestari, Permainan Gobak Sodor Dimainkan Anak-Anak Sambas



Hasil gambar untuk permainan gobak sodor anak SD
(Ilustrasi: Gobak Sodor)

Dahulu, permainan tradisional sangat digemari anak-anak. Dampak permainan tradisional, yakni pentingnya nilai-nilai kebaikan dan sosial. Namun, akan lebih baik jika anak-anak zaman sekarang diperkenalkan kembali dengan permainan tradisional. Ada banyak permainan tradisional dari setiap daerah, salah satunya gobak sodor yang masih dimainkan oleh ank-anak dusun Sambas, desa Kelbung, kecamatan Sepulu, Bangkalan.

Anak-anak dusun Sambas sangat antusias dalam permainan tradisional ini. Mereka masih mengerti dan memahami dengan baik. Hal itu dikarenakan hubungan sosial budayanya yang masih melekat dan sangat kental sekali.

Permainan tradisional gobak sodor dimainkan secara beregu. Setiap regu bisa terdiri 5 orang, bergantung luas lapangan yang tersedia. Satu regu akan menjadi penjaga, dan regu lainya akan menjadi penerobos. Intinya, pemainnya setiap anggota regu penerobos harus berusaha melewati  hadangan seluruh penjaga gerbang, hingga anggota berhasil melewati gerbang. Permainan akan selesai ketika anggota regu penerobos berhasil kembali.

Permainan tradisonal ini sangat banyak sekali mengandung unsur nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Jadi, memadukan antara perkembangan teknologi dan kebudayaan sebagai basis pendidikan bagi anak-anak dan merupakan pilihan bijak bagi orang tua. Tanpa harus menjadi orang yang tertinggal zaman, anak-anak memperoleh kesenangan dengan gadget. Namun, tetap mendapatkan pesan-pesan sosial dan edukasi yang penting dalam kehidupan nyata.



Jumat, 02 Februari 2018

Tentang Dusun Temaah dan Sejarah To Poon



(Foto: to poon di dusun Temaah, desa Kelbung)


Sebuah dusun terbentuk melalui proses panjang dalam sejarah. Proses tersebut dapat berupa kejadian atau peristiwa secara kronologis, seperti halnya cerita tentang asal-usul nama dusun Temaah. Berdasarkan penelusuran kepada warga sekitar, didapat sejarah dusun Temaah, sebagai berikut.

Dusun Temaah sebagai salah satu dusun yang terletak di desa Kelbung, kabupaten Bangkalan, awal mulanya tidak bernama Temaah, melainkan bernama Batu Poon, atau dalam bahasa Madura “to poon”. Nama Batu Poon didasarkan pada kondisi alam setempat yang saat itu terdapat sebuah batu besar dan pohon Nangger yang sangat tinggi dan besar. 

Konon, dahulu ada elang yang tinggal di atas pohon Nagger. Elang ini sering membawa ikan yang diambil dari laut kemudian dibawa ke sarangnya di atas pohon (pohon dalam bahasa Madura adalah poon). Masyarakat yang melintas di sekitar pohon sering menemukan ikan yang masih hidup di bawah pohon tersebut. Oleh warga sekitar, ikan tersebut diambil dan dijadikan bahan pangan. Oleh karena itu, dahulu desa ini dinamakan To Poon atau "Batu Pohon". Nama desa ini berubah sejak pemerintah setempat memberikan nama lain, yakni Temaah.

Kendati mengalami perubahan nama, situs bersejarah Batu Poon masih terjaga dengan baik. Situs tersebut dapat dikunjungi di dusun Temaah, dalam bentuk sumber mata air. Tanpa dipungut biaya, sebagaimana situs peninggalan sejarah di tempat lainnya, orang-orang di luar desa Kelbung dapat menyaksikan to poon, dan menikmati airnya yang jernih.


Berawal dari Keisengan, Bambu Noreh ini Disulap jadi Kerajinan Miniatur Rumah Adat



(Foto: Miniatur Rumah Adat Khas Desa Kelbung)


Tak lengkap rasanya, jika berkunjung ke suatu tempat tanpa membawa oleh-oleh khas dari daerah tersebut. Seperti halnya di desa Kelbung, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan. Sebuah desa eksotis dengan pemandangan indah, dan penuh pesona. Bukan hanya panorama alam yang dapat dinikmati para wisatawan, melainkan juga kerajinan tangan khas asli buatan masyarakat setempat yang dapat dijadikan buah tangan, salah satunya miniatur rumah terbuat dari bambu.

Kerajinan yang satu ini belum dikenal luas oleh masyarakat luar desa Kelbung, karena jika berbicara Kelbung, kebanyakan orang mungkin hanya mengetahui kerajinan tangan Tas Tali Agel. Berbeda dengan kerajinan tas Tali Agel yang sudah lama diproduksi, kerajinan tangan miniatur rumah dari bambu ini baru dibuat pada awal tahun 2018, tepatnya bulan Januari 2018.

Untuk sementara ini, kerajinan rumah dari miniatur bambu masih diproduksi secara rumahan oleh Mohammad Tayum. Inisiatif ini berasal dari keisengan semata, yakni membuat asbak dari bambu. Dari inisiatif tersebut, Tayum mendapat inspirasi dari salah satu tetangganya, yakni Rahmat.

“Inisiatif tersebut sekadar iseng belaka, yakni membuat miniatur rumah adat dari bambu,” ujar Rahmat, di tempat produksi kerajinan tangan tersebut.


(Foto: Rahmat dan Tayum Membawa Miniatur Rumah Adat)

Bukan sekadar kerajinan biasa, Rahmat dan Tayum berinisiatif membuat miniatur rumah adat Indonesia. Beberapa miniatur rumah adat yang telah berhasil dibuat antara lain, Musala khas Madura, dan Rumah Adat Kobelluh Madura, dan Rumah Adat Khas Minangkabau.

Setiap miniatur rumah tersebut berhasil dibuat dalam waktu kira-kira 15 hari, dengan melalui beberapa tahap proses pembuatan. Pertama, mencari bambu Noreh yang mudah didapatkan di daerah Kelbung. Kedua, proses pemotongan bambu sesuai dengan ukuran bagian-bagian miniatur dengan menggunakan piol (sejenis pisau khas Madura). Ketiga, pemasangan bagian-bagian miniatur rumah dengan menggunakan lem-G. Perlu diketahui, dalam proses pembuatan miniatur rumah adat, Tayum tidak menggunakan konsep gambar terlebih dahulu, melainkan melihat secara langsung rumah-rumah adat yang ada di Kelbung. Pada tahap terakhir, miniatur rumah yang sudah jadi, dilapisi dengan vernis agar mengilap, lalu dijemur di bawah sinar matahari agar kering.

Miniatur rumah adat ini dijual berdasarkan tingkat kerumitan proses pembuatan. Ditanya tentang harga jual, Tayum menyebut kisaran harga mulai dari 150 ribu hingga berdasarkan ukuran serta kerumitannya. Sementara itu, untuk kerajinan asbak dijual dengan harga 15 hingga 20 ribu. Kendati demikian, harga kemungkinan bisa berubah karena produksi ini masih dalam proses merintis.


Rabu, 31 Januari 2018

Selayang Pandang Desa Kelbung



(Foto: Pintu Gerbang Masuk Desa Kelbung)

Kelbung merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia. Lokasinya terletak 8 km dari pusat Kecamatan Sepulu yang dapat ditempuh dengan jarak 45 km dari pusat kota Bangkalan.

Desa Kelbung terdiri dari 7 dusun yaitu Dusun Sibalan, Dusun Pangloros, Dusun Longkak, Dusun Nibung,  Dusun Tema’ah, Dusun Rages dan Dusun Gayung. Ketujuh dusun tersebut berada pada lahan desa Kelbung seluas 10,11 km2 dengan jumlah penduduk 5.909 jiwa, dengan rincian sebanyak 2.914 jiwa penduduk laki-laki dan 2.995 jiwa penduduk perempuan.

Desa Kelbung berada pada area perbukitan yang masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat serta nilai-nilai agama. Slogan “Desa Dzikir dan Sholawat” akan dijumpai saat memasuki kawasan desa. Hal tersebut mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang mana terdapat kurang lebih tiga pondok pesantren serta kegiatan rutin yaitu pengajian yang diadakan setiap hari Jumat.

Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani yang sistem pertaniannya masih sangat bergantung pada musim. Para petani menanam padi saat musim hujan sedangkan pada musim kemarau menanam jagung sebagai tanaman pengganti padi. Mereka mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairannya sebab di desa tersebut sangat minim sumber mata air. Selain itu, penduduk Desa Kelbung bekerja sebagai TKI (tenaga kerja Indonesia), peternak sapi, serta sebagai pengrajin Tali Agel.

Potensi hasil pangan yang ada di desa Kelbung berupa padi, pisang, dan singkong. Utamanya singkong dulunya pernah menjadi makanan pokok masyarakat sebab saat itu jumlah penghasilan padi belum maksimal. Sedangkan pada sektor peternakan terdapat sapi, kambing etawa dan ayam yang mana setiap saat dapat mereka jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Desa Kelbung memiliki banyak sejarah yang menarik untuk diketahui antara lain mitos batu Jaran, sejarah to baddung, batu po’on, serta cerita beberapa buju’ (makam kramat para tokoh desa) yang ada di desa Kelbung. Panorama desa Kelbung sangat mempesona. Hal tersebut dapat dilihat saat berada di puncak bukit. Di sisi utara terlihat hamparan laut jawa yang sangat indah sementara di sisi selatan tampak gugusan perbukitan yang mempesona.  Selain itu, desa Kelbung sebagai desa yang berkawasan di daeran perbukitan yang memiliki pemandangan sangat mengagumkan berpotensi untuk dijadikan destinasi wisata bukit.